Inflasi Tahunan Lampung Terendah se-Sumatera, Juli 2026 Deflasi 0,49 Persen

2026-08-03T21:12:04.000Z

Penulis:Yunike Purnama

Secara tahunan inflasi Lampung tercatat 1,76 persen (yoy), capaian ini menjadi yang terendah di Pulau Sumatera dan berada di bawah inflasi nasional.
Secara tahunan inflasi Lampung tercatat 1,76 persen (yoy), capaian ini menjadi yang terendah di Pulau Sumatera dan berada di bawah inflasi nasional.

BANDARLAMPUNG – Provinsi Lampung mencatatkan deflasi sebesar 0,49 persen (month to month/mtm) pada Juli 2026. Angka tersebut berbalik arah dibandingkan Juni 2026 yang mengalami inflasi sebesar 0,55 persen (mtm), sekaligus lebih dalam dibandingkan rata-rata Juli dalam tiga tahun terakhir yang mengalami deflasi 0,15 persen.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), secara tahunan inflasi Lampung tercatat 1,76 persen (year on year/yoy). Capaian ini menjadi yang terendah di Pulau Sumatera dan berada di bawah inflasi nasional yang mencapai 2,88 persen (yoy).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Bimo Epyanto mengatakan, “Deflasi pada Juli terutama dipicu turunnya harga sejumlah komoditas pangan pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Bawang merah menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil -0,23 persen, disusul cabai merah -0,13 persen,”ujar Bimo dikutip dari keterangan resmi pada Senin(3/8).

Penurunan harga kedua komoditas tersebut dipengaruhi melimpahnya pasokan selama masa panen di sentra produksi Lampung maupun daerah pemasok seperti Brebes dan Kulon Progo.

Selain itu, harga daging ayam ras dan telur ayam ras juga mengalami penurunan dengan andil masing-masing -0,07 persen, seiring normalisasi pasokan setelah siklus produksi peternakan kembali berjalan pada Juli. Komoditas tomat turut menyumbang deflasi sebesar -0,05 persen berkat hasil panen yang melimpah dari sentra produksi Lampung Barat.

Meski demikian, penurunan harga tersebut tidak berlangsung tanpa tekanan. Sejumlah komoditas masih mencatat kenaikan harga yang menahan laju deflasi. Beras menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,07 persen, akibat pasokan yang masih terbatas menjelang puncak panen gadu yang diperkirakan berlangsung pada September 2026.

Harga daging sapi juga naik dengan andil 0,01 persen karena meningkatnya biaya logistik impor. Sementara itu, kelompok transportasi turut memberi tekanan inflasi melalui kenaikan harga bensin dengan andil 0,09 persen, sebagai dampak penyesuaian harga BBM nonsubsidi.

Tak hanya itu, harga telepon seluler ikut meningkat dengan andil 0,02 persen. Kenaikan ini dipengaruhi naiknya harga komponen chip global akibat gangguan pasokan serta penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat yang berdampak pada harga berbagai perangkat elektronik.

Ke depan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung memperkirakan inflasi hingga akhir 2026 tetap berada dalam kisaran sasaran nasional, yakni 2,5±1 persen (yoy). Meski demikian, sejumlah risiko masih perlu diantisipasi.

Dari sisi inflasi inti, tekanan berpotensi datang dari meningkatnya permintaan masyarakat, fluktuasi harga emas dunia, kenaikan harga plastik dan bahan baku pangan olahan, keterbatasan pasokan gula rafinasi, hingga kenaikan harga komponen elektronik global.

Sementara itu, dari kelompok bahan makanan bergejolak, risiko dipengaruhi potensi curah hujan rendah dan transisi menuju El Nino lemah yang dapat menekan produksi hortikultura dan tanaman pangan. Di sisi harga yang diatur pemerintah, risiko berasal dari kemungkinan kenaikan harga BBM akibat gejolak harga minyak dunia serta dampak lanjutan penyesuaian tarif Tol Bakauheni–Terbanggi Besar terhadap biaya transportasi antarkota.

Meski dihadapkan pada berbagai tantangan tersebut, kondisi inflasi Lampung yang menjadi paling rendah di Sumatera menunjukkan stabilitas harga di daerah masih relatif terjaga, terutama berkat kecukupan pasokan sejumlah komoditas pangan utama.(*)