BI Lampung
Penulis:Yunike Purnama
Editor:emylmaulana

BANDAR LAMPUNG – Perekonomian Provinsi Lampung tetap menunjukkan kinerja positif pada Triwulan III 2026 dengan pertumbuhan mencapai 5,02 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Meski melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,29 persen, capaian tersebut masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Sumatra yang sebesar 4,95 persen.
Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), nilai ekonomi Lampung mencapai Rp150,55 triliun atas dasar harga berlaku dan Rp80,42 triliun atas dasar harga konstan 2010.
Pertumbuhan ekonomi Lampung terutama ditopang sektor industri pengolahan yang tumbuh 5,63 persen dan perdagangan besar serta eceran sebesar 5,78 persen. Kedua sektor ini masih menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Sementara itu, sektor konstruksi mencatatkan akselerasi pertumbuhan dari 6,57 persen menjadi 7,98 persen. Peningkatan juga terjadi pada sektor transportasi dan pergudangan sebesar 7,97 persen serta penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 9,46 persen.
Meningkatnya mobilitas masyarakat dan kunjungan wisatawan nusantara menjadi salah satu pendorong pertumbuhan sektor transportasi dan pariwisata.
Di sisi lain, sektor pertanian yang memiliki kontribusi terbesar terhadap perekonomian Lampung, yakni 28,17 persen, hanya tumbuh 2,05 persen. Perlambatan ini dipengaruhi penurunan produksi padi setelah berakhirnya panen gadu serta berkurangnya produksi hortikultura akibat meningkatnya intensitas fenomena El Niño.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan dengan capaian 4,87 persen dan kontribusi sebesar 2,85 persen. Investasi juga menunjukkan penguatan melalui Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 6,08 persen, meningkat dari 3,08 persen pada triwulan sebelumnya.
Prospek 2026 Tetap Positif
Bank Indonesia memprakirakan ekonomi Lampung sepanjang 2026 tetap tumbuh pada kisaran 5,0–5,6 persen. Optimisme ini didukung kuatnya konsumsi rumah tangga, investasi, serta kinerja sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi.
Meski demikian, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai, terutama ketidakpastian ekonomi global, dampak El Niño terhadap produksi pangan, serta fluktuasi harga pangan dan komoditas.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung akan memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan melalui tiga strategi utama.
Pertama, memperkuat sektor pertanian dan stabilitas harga melalui peningkatan produktivitas serta ketahanan pangan. Kedua, mendorong hilirisasi komoditas unggulan, investasi, dan pengembangan UMKM berorientasi ekspor. Ketiga, mempercepat digitalisasi ekonomi dan keuangan daerah melalui perluasan transaksi nontunai serta optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Melalui berbagai langkah tersebut, Bank Indonesia berharap pertumbuhan ekonomi Lampung tetap terjaga, semakin berkualitas, dan mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.(*)