Dikabarkan Tengah Cari Partner Baru, Ini Tanggapan GoPay

2019-11-19T13:30:38.000Z

Penulis:Yunike Purnama

Ilustrasi Transaksi GoPay
Ilustrasi Transaksi GoPay

Kabarsiger.com, Jakarta - Aplikasi pembayaran digital milik Gojek, GoPay, dikabarkan mencari mitra baru. Menanggapi hal itu, GoPay menyatakan terus membuka kesempatan untuk berkolaborasi dengan banyak pihak, termasuk pemerintah, BUMN, dan swasta.

Head of Corporate Communications Winny Triswandhani mengatakan kerja sama dengan banyak pihak bisa membantu mengedukasi masyarakat. Sehingga GoPay bisa dipakai sebagai alat transaksi non-tunai oleh seluruh lapisan masyarakat.

"Kami sangat terbuka menyambut kerja sama dengan berbagai rekan dari berbagai sektor agar dapat mencapai tujuan ini," kata Winny dilansir dari Katadata.co.id, Senin (18/11) .

Kolaborasi tersebut, menurutnya, tak hanya untuk memenuhi kebutuhan pengguna tetapi juga rekan usaha (merchant) dan para mitra Gojek. Tercatat hingga saat ini GoPay sudah bekerja sama dengan lebih dari 420 ribu merchant di seluruh Indonesia, di mana 90% di antaranya adalah usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang termasuk pedagang kaki lima, kantin, dan warung kelontong. Selain itu, GoPay juga sudah dapat digunakan di 390 kota di Indonesia.

Winny melanjutkan, perusahaan ingin terus membantu memberikan solusi pembayaran non-tunai bagi para merchant, terutama dari sektor UMKM. Menurutnya, sektor UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia yang berkontribusi lebih dari 60% Produk Domestik Brutto (PDB) dan menyerap 96% dari tenaga kerja Indonesia.

"Jika kami bisa membantu meningkatkan perekonomian UMKM, maka otomatis ekonomi Indonesia juga meningkat. Hal ini sejalan dengan misi GoPay untuk memajukan ekonomi Indonesia dari bawah ke atas," ujarnya.

Seperti dilansir Bloomberg dalam laporan Morgan Stanley Research, hingga awal Februari 2019, Gopay telah memproses transaksi senilai US$ 6,3 miliar atau setara Rp 89 triliun dengan kurs Rp 14.200/dolar Amerika Serikat. Jumlah tersebut cukup besar dibandingkan dengan transaksi e-money yang dikeluarkan perbankan. 

Lebih lanjut Winny mengatakan layanan GoPay juga bisa dipakai untuk berbagai macam pembayaran seperti tagihan, pulsa, reksadana di bibit.id, tiket pesawat, e-commerce, SIM, SKCK, hingga PBB. Selanjutnya, melalui inisiatif GoPay for Good, perusahaan sudah bekerja sama dengan 400 organisasi non-profit seperti Kitabisa dan LAZ (Lembaga Amil Zakat).

Selain itu, perusahaan juga telah bekerjasama dengan puluhan institusi jasa keuangan, termasuk perbankan seperti dengan BNI Syariah untuk menyalurkan KUR ke merchant GoFood, BTN untuk KPR subsidi bagi driver hingga membukakan rekening di berbagai bank bagi merchant GoPay dan mitra driver Gojek yang belum memiliki rekening bank.

Winny melanjutkan platform pembayaran digital milik BUMN, LinkAja, kini juga telah hadir di aplikasi Gojek. Saat ini layanan tersebut dapat digunakan sebagai salah satu metode pembayaran untuk layanan GoRide, GoCar dan GoTix.

"Kolaborasi merupakan salah satu strategi utama kami, tak hanya untuk memenuhi kebutuhan pengguna tetapi juga bagi para merchant dan driver Gojek," ujarnya. Ia optimistis kolaborasi dengan berbagai partner adalah kunci transformasi dan akselerasi ekonomi digital di Indonesia.

Sebelumnya, CEO GoPay Aldi Haryopratomo mengatakan bahwa perusahaan berniat untuk mencari mitra baru dalam setahun ke depan."(Targetnya) sebanyak mungkin (partner), kami ingin mengembangkan produk finansial kami untuk para merchant dan pelanggan," ujar Aldi seperti dikutip dari Bloomberg TV, Selasa (12/11) lalu.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) terdapat 38 dompet digital (e-wallet) dengan lisensi resmi. Riset iPrice dan App Annie menyebutkan Gojek sebagai dompet digital dengan pengguna aktif bulanan terbesar di Indonesia sejak kuartal IV 2017.

Peringkat selanjutnya diraih oleh Ovo yang berhasil unggul selama empat kuartal berturut-turut. Sebelumnya, Ovo sempat bersaing dengan LinkAja memperebutkan posisi kedua.

Pada kuartal II 2019, posisi LinkAja berhasil digeser oleh pendatang baru, yaitu Dana yang berhasil naik ke peringkat ketiga. LinkAja pun harus turun ke peringkat empat. Jenius cenderung bertahan di peringkat kelima meskipun pada kuartal III 2018 sempat naik ke peringkat empat. (*)