Penulis:Chairil Anwar

Kabarsiger.com, Bandar Lampung -- Sehubungan dengan capaian inflasi secara kumulatif (ytd) Provinsi Lampung sampai bulan November 2019 (2,97%;ytd) yang sudah melebihi rata-rata historisnya selama tiga tahun kebelakang (2,38%;ytd), Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung memandang risiko kenaikan tekanan inflasi khususnya yang bersumber dari gejolak harga pangan perlu terus diantisipasi.
Pertama, terkait komoditas beras yang berisiko menyumbang kenaikan inflasi sampai dengan awal tahun 2020, sesuai dengan siklus produksi musimannya di akhir tahun yang cenderung berkurang seiring dengan belum masuknya musim panen raya.
"Indikasi tersebut mulai terjadi di tingkat nasional dan provinsi di mana harga beras sudah terpantau meningkat, meskipun peningkatannya tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya seiring dengan kegiatan Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) yang dilakukan oleh BULOG terus dijalankan," ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung, Budiharto Setyawan, Jumat (20/12).
Kedua, faktor curah hujan tinggi diprakirakan terjadi di akhir bulan Desember dapat berpotensi menurunkan kualitas dan kuantitas produksi, khususnya komoditas hortikultura yang rentan terhadap cuaca sehingga dapat berpengaruh pada harga komoditas tersebut.
Hal ini termasuk risiko yang berasal dari kenaikan harga bawang merah dan sayur-sayuran seiring dengan menipisnya pasokan, tercermin dari sumbangan inflasi yang cukup tinggi di bulan November meskipun tidak setinggi sumbangan bulan Oktober.
Selain itu risiko peningkatan harga cabai juga perlu diwaspadai, meskipun saat ini komoditas aneka cabai masih mengalami deflasi, tingkat deflasi yang terjadi sudah tidak sedalam deflasi periode sebelumnya dan harga rata-rata cabai sudah berada ditingkat yang rendah sehingga berpotensi untuk meningkat di periode selanjutnya.
Ketiga, risiko yang berasal dari potensi kenaikan tarif angkutan udara menjelang libur akhir tahun serta kebijakan peningkatan tarif penyeberangan Merak-Bakauheni secara bertahap yang dapat menyebabkan tekanan inflasi lebih tinggi di akhir tahun. Indikasi peningkatan tarif angkutan udara mulai Nampak dari pantauan Survei Pemantauan Harga di minggu pertama bulan Desember 2019.
Budiharto melanjutkan, dalam rangka mengantisipasi risiko tekanan inflasi ke depan, diperlukan langkah-langkah pengendalian inflasi yang konkrit terutama untuk menjaga inflasi tetap stabil.
"Pertama, kerjasama TPID dan BULOG perlu diperkuat dalam memastikan ketersediaan cadangan beras serta keterjangkauan harga komoditas tersebut di pasar. Kegiatan KPSH yang dilakukan oleh BULOG perlu terus dilaksanakan guna memastikan kepastian pasokan di pasaran," ujarnya.
Monitoring informasi harga secara rutin dapat dilaksanakan melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), sehingga menjadi acuan langkah stabilisasi harga ke depan oleh pemerintah maupun TPID Kabupaten/Kota.
Kedua, melakukan intensifikasi pendampingan dan pelatihan penanganan komoditas hortikultura di musim penghujan, memitigasi ketersediaan pasokan holtikultura dengan mempercepat LTT (Luas Tambah Tanam) komoditas yang memiliki demand tinggi dan harganya sering bergejolak seperti cabai dan bawang, serta memastikan efisiensi distribusi bibit, pupuk, pestisida dan alsintan lainnya agar masa tanam berjalan dengan lancar.
"Peran penyuluh pada masa tanam penting untuk melakukan edukasi kepada petani mengenai metode, teknik dan inovasi terbaru yang sudah implementatif," ungkap Budiharto.
Ketiga, melakukan koordinasi dengan asosiasi penerbangan nasional/INACA (Indonesia National Air Carriers Association) serta Organda (Organisasi Angkutan Darat) untuk tetap menjaga kestabilan harga tiket pesawat maupun angkutan antar kota sampai dengan awal tahun depan. (*/VA)