PTPN I Pegang Mandat Hilirisasi Kelapa dan Pala
Eva Pardiana - Kamis, 26 Maret 2026 17:39
Subholding Supporting Co pada Holding Perkebunan Nusantara tersebut dijadwalkan melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan pabrik kelapa terintegrasi senilai Rp500 miliar dan pabrik pengolahan pala senilai Rp140 miliar pada Sabtu (28/3/2026). (sumber: PTPN I)JAKARTA – Program hilirisasi komoditas yang menjadi mandat Presiden Prabowo kepada Danantara terus menunjukkan progres. Untuk komoditas kelapa dan pala, Danantara menugaskan PTPN I sebagai pelaksana operasional di lapangan.
Subholding Supporting Co pada Holding Perkebunan Nusantara tersebut dijadwalkan melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan pabrik kelapa terintegrasi senilai Rp500 miliar dan pabrik pengolahan pala senilai Rp140 miliar pada Sabtu (28/3/2026). Kegiatan ini rencananya akan dihadiri Presiden Prabowo bersamaan dengan proyek hilirisasi lainnya di KEK Sei Mangkei, Sumatera Utara.
Groundbreaking ini menjadi bukti kesiapan PTPN I dalam menjalankan mandat program tersebut. Selain komoditas kelapa dan pala, pada kesempatan yang sama juga akan dilakukan peresmian program peremajaan (replanting) tanaman kopi, lada, kakao, dan jambu mete seluas 800 ribu hektare di seluruh Indonesia. Program ini mendapat dukungan anggaran pemerintah sebesar Rp9,9 triliun.
- Gendang Persadaan Ginting Undang Ratusan Masyarakat Karo se-Lampung
- Sukses Manfaatkan Pembiayaan, ACC Dukung Usaha Ekspedisi di Lampung
- Workflow Automation dan Integrasi AI Jadi Kunci Efisiensi Perusahaan
Dua proyek yang menjadi domain PTPN I, yakni pabrik kelapa terintegrasi dan pabrik pengolahan pala, akan dibangun di atas lahan seluas 11 hektare di Kebun Awaya, Kabupaten Maluku Tengah. Pabrik kelapa terintegrasi dirancang untuk memproduksi Medium-Chain Triglycerides (MCT), tepung kelapa, dan arang aktif dengan kapasitas olah hingga 300.000 butir kelapa per hari. Sementara itu, pabrik pengolahan pala difokuskan pada produksi oleoresin untuk memenuhi standar tinggi pasar ekspor.
Kehadiran fasilitas manufaktur modern ini diproyeksikan tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi juga menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar. Hal ini sejalan dengan target penciptaan hingga 1,6 juta lapangan kerja baru secara nasional di sektor hilirisasi perkebunan dalam dua tahun ke depan.
Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, dalam siaran pers di Jakarta, Kamis (26/3/2026), menyatakan kesiapan perusahaan dalam menjalankan mandat tersebut. Ia menyebut transformasi ini sebagai langkah besar untuk meningkatkan ekonomi perkebunan rakyat yang selama ini didominasi sektor agraris.
“Hilirisasi ini bukan sekadar mengejar nilai tambah produk, melainkan lompatan besar untuk menjadikan Indonesia sebagai kekuatan agraris dunia. Ini juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat di wilayah operasional PTPN I,” ujar Teddy.
- Jasa Raharja Perkuat Perlindungan Perjalanan Pemudik IFG Grup
- Idulfitri 1447 H, Direksi PTPN I Perkuat Sinergi Transformasi
- Jasa Raharja Catat Penurunan Angka Kecelakaan Lalu Lintas
Ia menambahkan, melalui sinergi dengan Danantara dan optimalisasi skema kerja sama operasional (KSO), PTPN I berperan sebagai jembatan yang menghubungkan potensi petani lokal dengan teknologi industri modern serta akses pasar global.
Untuk menjamin keberlanjutan dan efisiensi operasional, PTPN I mengedepankan skema KSO bersama mitra strategis. Skema ini memungkinkan transfer pengetahuan, penerapan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat, manajemen profesional, serta penguatan portofolio bisnis tanpa membebani investasi aset secara berlebihan.
“Dengan dukungan penuh dari Danantara, PTPN I berkomitmen memastikan seluruh tahapan pembangunan pabrik di Maluku berjalan sesuai jadwal demi mewujudkan kemandirian pangan dan ketahanan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” kata dia. (*)

