IHSG 2020 Berakhir di Bawah 6.000, Ketua OJK Wimboh Santoso: Tahun 2021 Akan Lebih Kuat

Ekonomi & Fintech 30 Des 2020, By Redaksi
IHSG 2020 Berakhir di Bawah 6.000, Ketua OJK Wimboh Santoso: Tahun 2021 Akan Lebih Kuat Ketua OJK Wimboh Santoso. (Ist)

Kabarsiger,com - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengaku optimis bahwa kinerja pasar modal di tahun 2021 akan lebih kuat. Meskipun di penutupan tahun 2020 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi.

Lebih lanjut, Wimboh mengatakan dirinya juga yakin industri pasar modal di 2021 akan menorehkan pencapaian yang baik nantinya.

"Capaian yang baik di tahun ini menjadi katalis positif bagi kinerja pasar modal di tahun depan dan berkontribusi untuk bangkitnya perekonomian Indonesia. Mari kita bangun optimisme bahwa setelah melewati ujian ini, kita akan lebih kuat dan resilient dalam menghadapi tantangan-tantangan ke depan" tuturnya, dalam penutupan perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI) secara virtual, Rabu (30/12/2020).

Wimboh mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan pemerintah, Bank Indonesia dan LPS akan selalu berupaya untuk menyiapkan berbagai kebijakan dan inisiatif yang diperlukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

Kata Wimboh, kepercayaan investor dan pelaku pasar modal terhadap fundamental dan prospek ekonomi Indonesia serta integritas dari pasar modal Indonesia sangat penting bagi pengembangan industri pasar modal nasional.

"Kami juga ingin mengapresiasi seluruh pihak, baik pemerintah, Bank Indonesia, LPS, SRO dan seluruh pelaku di industri pasar modal atas kerjasamanya yang baik selama ini, karena tanpa adanya kerja sama dan koordinasi yang baik, maka capaian tersebut tidak dapat terwujud," ucapnya.

Selain itu, Wimboh juga turut mengapresiasi langkah pemerintah menerbitkan UU Nomor 9 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Menurutnya, hal ini bisa membantu kinerja industri pasar modal ke depan, baik dalam bentuk insentif fiskal (baik PPh Badan maupun pajak dividen) serta penyederhanaan proses penerbitan Obligasi Daerah.

"Kami percaya, ke depan kebijakan ini akan menstimulasi kalangan korporasi untuk go public dan meningkatkan minat investor untuk berinvestasi di pasar modal nasional sehingga dapat menambah daftar capaian pasar modal kita," tuturnya.

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 51 perusahaan telah melakukan Initial Public Offering (IPO) dan mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga per 30 Desember 2020. Adapun sampai dengan saat ini terdapat 713 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI.

Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi mengatakan, dengan torehan tersebut maka Indonesia masih menjadi bursa saham dengan jumlah IPO terbanyak jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.

"Indonesia pun masih menjadi bursa dengan jumlah IPO terbanyak di ASEAN," katanya, dalam penutupan Perdagangan BEI 2020, Rabu (30/12/2020).(*)

Yunike Purnama

Yunike Purnama