Target Nol Emisi, Pengamat: Pertamina Harus Mampu Jadi Pelopor Menuju Transisi Energi
Yunike Purnama - Jumat, 30 Juni 2023 15:22
PT Pertamina (Persero) dinilai dapat menjadi perintis dan pelopor menuju transisi energi ke depan (sumber: Pertamina)JAKARTA- Perusahaan minyak dan gas negara, PT Pertamina (Persero) dinilai dapat menjadi perintis dan pelopor menuju transisi energi ke depan. Hal ini sejalan dengan target negara-negara maju untuk konversi dari energi fosil ke energi terbarukan pada 2060.
Pengamat Tambang & Energi Alpha Research Database Indonesia Ferdy Hasiman mengatakan, jika dilihat cadangan minyak Pertamina yang makin terkikis, hal ini akan berimplikasi pada pengurangan energi karbon dan fosil di sektor otomotif dan kelistrikan nasional.
Menurut Ferdy, dengan target ambisius tahun 2060, Pertamina harus melakukan konversi dari energi fosil ke energi terbarukan. Saat ini, energi fosil masih mendominasi, terlihat dari produksi migas Pertamina di atas 500.000 barel per hari.
"Dengan cadangan minyak yang makin terkikis dan hanya tersisa belasan tahun, Pertamina wajib hukumnya perlahan melakukan proses transisi ke energi ramah lingkungan” katanya dalam keterangan tertulis pada Jumat, 30 Juni 2023.
- Yayasan Alfian Husin dan IIB Darmajaya Kurban 2 Ekor Sapi dan 5 Ekor Kambing
- 24 Negara Siap Ramaikan Piala Dunia U-17 2023 di Indonesia
- 10 Standar Kerangka ESG Pemerintah Indonesia
Untuk itu, Pertamina mendirikan Pertamina Geotermal Energi (PGE) untuk mengembangkan panas bumi sejak tahun 1974. PGE sudah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak tahun ini.
Dengan tercatat di bursa, laporan keuangnnya bisa diakses semua orang, lebih transparan dan masyarakat Indonesia mengetahui apa yang dilakukan Pertamina di sektor energi baru terbarukan.
PGE sudah menemukan 70 wilayah panas bumi dan telah menghasilkan energi ramah lingkungan. Sejak tahun 2006, PGE telah berkontribusi 82% untuk kapasitas energi panas bumi terpasang di Indonesia.
Ini menjadi komitmen bagi Pertamina untuk memberikan energi masa depan yang lebih hijau. Sampai tahun 2022, PGE telah memasok listrik lebih dari 2 juta rumah tangga di Indonesia dengan potensi pengurangan emisi mencapai 9,7 juta ton CO2 per tahun.
Dengan melihat ekspansi yang dilakukan PGE, proses transisi menuju energi baru terbarukan sudah mulai berjalan. Pertamina di masa mendatang boleh berharap peningkatan revenuenya juga disumbangkan dari energi baru terbarukan.
Sedangkan untuk aspek new business building, melalui subholdingnya (PGE), Pertamina berupaya mengeksplorasi sumber daya energi baru yang diharapkan dapat memberi lebih banyak kontribusi revenue.
Pertamina memiliki kewajiban memastikan energi bagi masyarakat available (tersedia), affordable (terjangkau), dan reliable (dapat diandalkan).
“Ini harus diseimbangkan agar bisa mengamankan energi nasional dan bisa melakukan konversi ke energi hijau,” kata Ferdy.
Dalam 10 tahun atau belasan tahun ke depan memang, energi fosil tetap menjadi tulang punggung dan berkontribusi besar bagi revenue Pertamina.
Ini tak boleh lepas dari peran Pertamina melakukan eksplorasi minyak dan gas di hulu dan pengolahan di sektor hilir melalui pembangunan kilang menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM), seperti solar, bensin, diesel dan avtur untuk memenuhi kebutuhan konsumsi domestik.
“Indonesia tak boleh tergantung pada korporasi asing atau modal asing untuk mengamankan energi nasional,” ujar dia.
Menurut Ferdy, akan mustahil melakukan konversi energi fosil ke energi hijau dalam waktu sekejab. Ini membutuhkan waktu dan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) untuk merealisasikan dekarbonisasi melalui pengembangan energi berbasis hijau.
“Pertamina tentu harus berupaya menahan laju penurunan alami lapangan minyak dan gas dengan melakukan injeksi dan memanfaatkan emisi karbon untuk meningkatkan produksi migas,” ujarnya. (*)

